Syahedu.COM

RECENT ARTICLE

Kemiskinan Akhlak : DEMO Politik atau Demo Kebijakan

Akhir-akhirnya kita masih menyaksikan Demo buruh dan masyarakat. Tuntut mereka beragam. Ada yang masih berkutat masalah BBM naik, ada juga masalah tuntutan gaji naik. Padahal tempat saya kerja, jika memperhatikan UMP maupun UMR masih jauh dari standar yang dituntut para buruh tersebut. Tapi alhamdulillah masih belum terlihat Demo ditempat saya kerja. Apakah ada keinginan untuk action juga atau takut, yang pasti sejak saya kerja, belum ada yang demo menuntut gaji naik. Kecuali kalau gaji terlambat, baru ada yang demo, itupun hanya beberapa orang dosen yang melakukan. Karyawan tidak pernah sama sekali.

Ditempat lain juga kita lihat demo penolakan atas kepemimpinan seseorang Gubernur. Dimana banyak kebijakan yang dikatakan para pengamat dan masyarakat merugikan. 

Dari berbagai peristiwa tersebut, memang pada ujungnya bicara masalah kesejahteraan dan perut seseorang dan keluarganya. Dimana-mana belahan bumi ini,pasti kita temukan kemiskinan yang tak pernah habis-habisnya.

Jika kita telurusi, ada benar juga ada salahnya setiap tindakan yang kita lakukan. Dalam pandangan agama,kita kenal kemiskinan akhlak. Kata Jokowi "Revolusi Mental". Deskripsi-deskripsi tersebut, manjadi sebuah perbincangan hangat kita di pagi ini.

Apa sih sebenarnya yang ingin dicari ini?
Demo,atau Demontrasi didalam Kamus Besar Bahasa Indoensia, ada 2 (dua) makna :
1. Pernyataan protes yang dikemukakan secara masal atau unjuk rasa.
2. Peragaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga atau kelompok, misalnya memasak ibu-ibu PKK.

Demonstrasi merupakan sebuah bentuk ekspresi berpendapat dalam sebuah contoh studi kasus yang bermasalah.

Unjuk rasa merupakan hak warga yang dilindungi oleh undang-undang. Selama unjuk rasa tersebut dilakukan dengan tertib dan sopan.

HIDUP INI SEBUAH PROSES

Suatu hari seorang pemuda terjaga dari tempat tidurnya. Ada bayangan harapan dan impian dalam ingatan pemuda ini. Lama sekali ia ingin pahami apa sebenarnya dibalik terjaganya dirinya. Akhir-akhir ini memang ia merasakan perubahan yang begitu besar dalam hidupnya. Namun ia belum begitu yaqin atas peristiwa-peristiwan tersebut. 

Keberanian untuk membuat keputusan dalam hidupnya, antara keinginan, harapan dan mimpi-mimpinya harus bisa terwujud. Tiap malam ia kadang berjaga untuk menemukan jawaban yang pas. Apa sih yang ia cari sebenarnya. Padahal Tuhannya, sudah mengatakan "Jika kamu sembunyikan atau kamu nampakan apa yang ada dihatimu, niscaya Allah akan mengetahui semuanya".

Itulah ilustrasi kehidupan kita. Bahwa hidup ini adalah sebuah proses untuk menuju kebahagian yang sebenarnya. Tapi kadang-kadang kita terjebak dalam lingkaran hidup kita sendiri. Kita tidak berani mengambil keputuan, karena kita masih takut untuk membuat sebuah keputusan yang berarti.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan nasihat kepada kita, "Tidak akan berubah seseorang, jika orang itu sendiri tidak mau merubahnya". Hidup adalah sebuah pilihan yang sudah pasti harus kita pilih antara "ya" atau "tidak". 


MENJADI PEMBOHONG PROFESIONAL

Menjadi pembohong profesional adalah harapan bagi setiap pembohong. Tipe pembohong ini adalah mereka yang telah menggunakan kebohongan bisa sebagai profesi mereka. Biasanya para pembohong profesional telah begitu terbiasa dan telah mempertimbangkan benar-benar skenario kebohongan yang akan mereka mainkan. Alih-alih untuk mengetahui kebohongan dari seorang pembohong termasuk yang sudah profesional menurut pengamat dan ahli psikologi-pun sangat sulit untuk diketahui sedang berbohong atau tidak. Menurut mereka, mimik atau bahasa tubuh saja tidak cukup sebagai patokan. Kita justru bisa tahu seseorang berbohong atau tidak, ketika kita sudah ketahuan dibohongi, atau bagi mereka yang dekat dengan seorang pembohong, dapat membedakan bagaimana sikap orang tersebut ketika sedang tidak berbohong.
Itulah manusia, kadang dengan gagahnya dia bersembunyi dibalik kebohongan. Siapapun kita pasti pernah berbohong, hanya levelnya saja yang membedakan. Dan berlaku pula sebaliknya, siapapun kita pasti pernah juga dibohongi, dengan level yang berbeda pula. Bohong dianggap sebagai suatu penyakit perilaku (behaviour disturbance), kadang hal ini menjadi kebiasaan yang mengakar dan menjadi sebuah karakter yang melekat kuat pada pribadi seseorang. Hal ini akan berimbas pula pada pola hubungan sosial kemasyarakatannya. Orang yang gemar berbohong (pembohong), akan selalu bersembunyi di balik kebohongannya, dan bukan tidak mungkin akan senantiasa membawa kebohongan ini di lingkungannya.
Meskipun dampak kebohongan itu yang sangat negatif dan membahayakan, namun tidak sedikit dari kita yang gemar berbohong. Hal itu karena adanya dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri untuk cenderung lebih suka berbohong. Bagi mereka yang melakukan kebohongan jauh lebih banyak biasanya disebut dengan pseudologia fantastica. Selain itu ada pemanfaatan yang diperoleh dari pelaku kebohongan ini. Yang jelas, kenapa mau bebohong, jawaban pastinya adalah, karena ada keuntungan yang dia peroleh dari kebohongan tersebut. Misalnya, melindungi kepentingan, melindungi diri dari rasa malu, melindungi privasi, dan masih bamyak lagi. Selain itu ada kebohongan dengan mengatas namakan kebaikan. Kita berbohong karena melindungi orang lain, yang mereka anggap itu sebagai kebaikan.
Bagi orang lain, pembohong adalah orang yang paling menyebalkan, karena saat mereka dibohongi, maka hancurlah kepercayan dan yang lebih terpenting menjadi lebih bodoh dari orang lain. Ada bermacam-macam alasan yang mendorong orang untuk melakukan kebohongan, antara lain sebagai berikut:
  • Berbohong hanya sekedar iseng saja. Orang dapat berbohong hanya karena ingin menikmati kesenangan murahan. Orang merasa senang jika ada orang lain yang tertipu atau terpedaya oleh kebohongannya. Si pembohong pertama-tamanya akan tidak merasa berdosa karena kebohongannya dan itu dinilai hanya sebuah lelucon untuk mengerjai orang lain.
  • Berbohong untuk memperoleh kepentingan tertentu. Para pedagang misalnya, kadang-kadang menipu supaya bisa mendapat untung yang lebih besar. Karyawan berbohongan kepada atasannya untuk bisa dinilai bekerja dengan baik, atau menyembunyikan kecurangannya dalam bekerja dsb.
  • Berbohong karena takut dalam situasi terjepit. Untuk menyelamatkan diri dari situasi yang sulit ia terpaksa berbohong. Seringkali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan yang dipersalahkan kepadanya.
Bagi yang memilih untuk menjadi seorang pembohong, agar menjadi pembohong profesional, hindari kebiasaan tertentu dalam melakukan aksi berbohongnya. Atau siapa tahu, sobat orang yang jujur tanpa sadar sering melakukan kebiasaan ini, (pernah seseorang menjadi pembohong sekali-kali atau berkali-kali) bagi yang mengetahui kebiasaan tersebut, maka orang lain akan sangsi, oleh karena itu setidaknya :
  1. Hindari untuk menyentuh wajah saat berbohong, yang paling umum saat seseorang berbohong adalah dengan menyentuh wajah mereka, terutama dua bagian, yaitu mata dan hidung.
  2. Hindari saat berbicara dengan menggosok-nggosokan mata, karena pada dasarnya pembohong murahan, dia ingin menghindari kontak mata, kecuali ruangan memang penuh dengan debu, bisa jadi mata kita memang kemasukan debu.
  3. Hindari adanya perubahan suara. Ciri-ciri pembohong bisa di dengar dari nada bicaranya. Berhati-hati bagi yang gemar ngerumpi sambil ngemil makanan, ini sorganya bagi pembohong, bercerita sambil menggigit makanan adalah trik menyembunyikan kebohongan.
  4. Hindari menjawab terlalu berhati-hati, hal ini terjadi karena tegang takut kebohongannya terbongkar. Usahakan dengan cara mengulur-ulur waktu untuk menyusun jawaban yang rasional. Seseorang yang berbicara lancar namun tiba-tiba gugup merupakan tanda-tanda sedang mengalami tekanan emosi.
  5. Kurangi kebiasaan menggaruk-garuk saat berbohong. Karena umumnya orang lain tahu bahwa cara paling gampang mendeteksi kebohongan adalah melalui gerakan tangan. Kebanyakan pembohong tidak banyak menggerakkan tangan saat mereka melakukan aksinya. tapi ada satu yang sering mereka lakukan, yaitu menggaruk, biasanya lima kali saling susul mereka menggaruk-garuk tubuhnya.
  6. Mengontrol gerakan kaki. Saat sedang berdiri,  mengetuk ke tanah, berbohong dapat dengan mudah diketahui. Jika saat pembohong sedang duduk, maka kontrolah gerakan  mengayun-ayunkan kaki.
  7. Hindari sering menyentuh hidung. Fenomena ini juga dikenali sebagai kesan pinocchio. Jadi, apabila bercakap, pembohong kerap menyentuh hidung yang tidak gatal, sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikannya.
  8. Hindari meletakkan tangan di atas mulut saat berbohong. Ini merupakan satu tindak balas automatic yang lahir dari segi psikologi karena dari kecil sudah dididik untuk tidak berbohong. Apabila mulut mengeluarkan kata-kata dusta, tangan coba menghalangnya.
Nah itulah kebiasaan yang perlu dihindari agar kebohongan kita tidak mudah diketahui, atau setidaknya kebohongan itu tidak cepat diketahui, karena yang namanya kebohongan, cepat atau lambat hal itu akan terbongkar. Kita dilarang untuk berbohong dan perbuatan ini sebagai perbuatan dosa besar. Bohong adalah penyakit yang menghinggapi masyarakat di segala zaman. Ia adalah penyebab utama bagi timbulnya segala macam bentuk kejelekan dan kerendahan. Perbuatan bohong akan menimbulkan rasa saling membenci, rasa saling mempercayai antar sesama akan hilang, dan akan tercipta suatu bentuk hubungan sosial yang tidak berlandaskan asas saling tolong-menolong atau gotong royong. Apabila bohong sudah menjadi kebiasaan, maka hilanglah rasa senang dan keakraban, .. itu!.
SUMBER : http://rohendiagus.com/menjadi-pembohong-profesional/

Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan

Dalam pokok-pokok pikiran bapak H. Syaukani HR tentang Pemberdayaan Masyarakat, beliau menyampaikan "Harapan Pembangunan Desa Terpadu". Kita semestinya berterimakasih pada beliau yang telah memberikan sumbangsih pembangunan Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur pada kepemimpinan beliau menjadi Bupati Kutai Kartanegara pada saat itu. 

Salah satu pokok permasalahan desa di Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara adalah keterbelakangan, kemiskinan kesenjangan. Kemiskinan terjadi akibat sangat minimnya sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar yang berupa pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan.

Mereka yang berada dalam kategori miskin hidupnya serba kekurangan. Sedangkan kesenjangan adalah sebuah kondisi dimana didalamnya terjadi ketimpangan pemilikan akses pada sumber-sumber ekonomi. Kelompok yang kuat mempunyai akses lebih kuat dari kelompok lain yang tergolong lemah. 

Dari sudut pandang sejarah, masalah kemiskinan maupun ketimpangan ekonomi di Indonesia bukan masalah baru. Jauh sebelum Indonesia merdeka masalah ini sudah mencuat dalam pembicaraan dan diskusi hangat dalam pemerintahan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial saat itu meluncurkan program "anti kemiskinan" yang dikenal sebagai Politik Etis'. Edukasi, irigasi dan emigrasi, adalah tiga rangkaian program untuk "membalas budi" orang Indonesia yang telah "memperkaya" negeri dan bangsa Belanda. 

Ekonomi rakyat sebenarnya merupakan tulang punggung ekonomi nasional yang bisa diandalkan sering kurang disadari, terutama sejak terjadinya proses konglomerasi ekonomi mulai 1987-1988, dimana sering orang menyindir bahwa barangkali memang konglomeratlah, dan bukan koperasi, wadah kegiatan ekonomi rakyat, yang merupakan sokoguru ekonomi nasional.

Bahwa ekonomi rakyat kuat daya tahannya, sedangkan sebaliknya perusahaan besar sering keropos dan bisa merepotkan pemerintah, telah dibuktikan oleh kasus krisis Pertamina 1975, kasus Indocement tahun 1985, ambruknya Bank Summa akhir tahun 1992, dan krisis ekonomi sejak 1997.

Cara lain untuk mengingatkan bahwa menterlantarkan ekonomi rakyat (kecil) akan berakibat fatal dalam jangka panjang adalah dengan menunjukan, bahwa perusahaan-perusahaan besar bisa cepat mengeluh tentang sudah mulai jenuhnya pasar dalam negeri dan selanjutnya mulai minta kemudahan-kemudahan ekspor bagi pemasaran barang-barangnya keluar negeri, karena harga jual barang-barangnya tidak mampu bersaing dengan barang-barang negara pesaing dipasar dunia. Dalam hal yang demikian seharusnya disadari bahwa kesalahan pokoknya justru karena kegagalan kita untuk meningkatkan secara cepat daya beli rakyat. Inilah yang selalu diingatkan Hatta, bahwa tugas utama pembangunan ekonomi adalah untuk meningkatkan daya-beli atau tenaga beli rakyat.

Referenci :
Mubyarto, 2002, Membangun Sistem Ekonomi, diterbitkan oleh BPFE-Yogyakarta.
Mubyarto, 2003, Ekonomi Pancasila, Renungan Satu Tahun PUSTEP UGM, Yogyakarta.
Mubyarto, 2004, Pemberantasan Kemiskinan Dan Pembangunan Sosial, Aditya Media Yogyarkarta.
Syaukani, 1999, Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Studi Pembangunan Kalimantan Timur.

EKONOMI PANCASILA : Pelajaran Dari Kaltim

Zamrani (26 th) pengemudi Speed-boat yang mengantar perjalanan pulang kami dari Melak ke Kota Bangun (23 September 2003), yang berjarak darat sekitar 180 Km, dalam waktu 2,5 jam, yang hanya tamat SD 6 tahun, berbincang tentang "Ekonomi Pancasila dalam Aksi" (Economi Pancasila in action). 

Pertanyaan awal yang muncul adalah mengapa boat tidak dapat sekaligus mengantarkan penumpang langsung ke Samarinda melalui sungai Mahakam yang makin ke muara makin lebar. Tanpa diduga Zamrani menjawab "harus terjadi bagi-bagi rejeki" antara pemilik speed dan taksi yang keduanya dimiliki oleh warga Kota Bangun.

Di Kota Bangun terdaftar 79 speed dan 60 taksi, (hampir semuanya, termasuk taksi bis mini Kijang, Mitsubishi Kuda, Daihatsu Taruna, atau KIA Careens berumur 2-3 tahun), yang beroperasi aktif sejak ekonomi daerah ketika Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi Kabupaten Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat, masing-maisng dengan ibukota Sangatta, Tenggarong, dan Sendawar Melak.

Kota Bangun berada "ditengah-tengah" antara Melak dan Samarinda yang berjarak darat sekitar 300 km, dan merupakan situs kerajaan kuno Sribangun Mulawarman. Kondisi kemerataan sosial masyarakat Kota Bangun seperti dicita-citakan dalam sila 2 Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab, jelas merupakan gagasan asli masyarakat setempat, yang berkembang di banyak masyarakat lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Itulah sumbangan orisional Bung Karno yang menyatakan bahwa Pancasila adalah "hasil galian" gagasan dan pandangan hidup asli masyarakat Indonesia, bukan khayalan atau hasil jiplakan dari budaya luar Indonesia.

Bung Hatta yang menerima penuh Pancasila galian Bung Karno menyatakan :
Kita manusia itu sifatnya lupa..............dengan Pancasila itu diingatkan kita bahwa ada Pancasila. Kalau sekali-kali kita berbuat salah, diingatkan kita, sehingga kita harus kembali ke jalan yang lurus. Itulah gunanya Pancasila itu. Bukan sekedar untuk dihafalkan dibibir saja. Dihafalkan, dijalankan dengan bukti. (Muhammad Hatta 1980, Ilmu dan Agama, Yayasan Idayu, Jakarta).

Dengan anjuran Bung Hatta untuk tidak sekedar menghafalkan Pancasila tetap juga "menjalankan dengan bukti", maka fakta dari lapangan seperti yang telah dilaksanakan atau diamalkan pada usaha jasa transfor di Kota Bangun tersebut cukup menyakinkan. (Mubyarto, Ekonomi Pancasila Renungan Satu Tahun Pustep UGM, 2003).

EKONOMI KERAKYATAN

Pagi itu dingin sekali. Jam menunjukan jam 5 pagi. Hari ini saya harus bersiap-siap berangkat menuju kecamatan Kenohan. Jika kita naik kendaraan roda 4 waktu yang harus kita sediakan dalam kendaraan 2 jam jika jalan tidak ada hambatan. 3-4 Jam jika jalan masih banyak ranjaunya. Berlubang-lubang.

Setelah melaksanakan kewajiban pada Tuhan yang Maha Esa, Allah pemilik alam, seperti biasa kita aku langsung berangkat bersama teman-teman. Kita mampir dulu di warung makan daerah Timbau Tenggarong. Istilah orang Kutai itu "Mbeko" Nasi kuning.

Selesai sarapan pagi, kami melanjutkan perjalan tersebut. Saya terbiasa supir sendiri kendaraan jika kemana-mana, meskipun yang ikut banyak yang bisa gantikan supir. Sekaligus sebagai pimpinan mereka, saya yang memimpin perjalanan tersebut.

Cukup lama perjalanan ini. Karena jalan-jalan masih banyak yang rusak. Negara ini memang kaya. Kekayaan alam habis-habisan dikeruk, tetapi untuk membuat jalan saja kita masih tertatih-tatih, karena anggaran untuk itu tidak ada. Itulah yang sering dikatakan pemimpin kita.

Jam 08.00 kami sudah tiba di Pelabuhan Masjid Kota Bangun. Kota Bangun merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, dari 18 Kecamatan yang ada.

Mobil kami parkir sebentar untuk menurunkan penumpang-penumpang yang ada. Setelah turun semuanya, aku memarkir mobil diantara mobil-mobil lain, yang memang sudah duluan parkir disana. Aku sedang parkir mobil, yang lain mencari kendaraan air (Ces / Ketinting Istilah Kutai). Kemudian tidak lama, kami naik kendaraan air tersebut, dan meluncur melalui Sungai Pela.

Terus menyemberangi Danau Semayang yang cukup luas, seluas mata memandang. Sama seperti kita ditengah lautan. Tidak ada tepi tinggal air dan awan diatas kepala kita.

Dalam perjalanan yang masih suasana pagi, kita melalui beberapa hutan yang berada diatas air, serta masyarakat yang sedang menjaring ikan di anak-anak sungai. Semua terasa indah bagi yang menikmati perjalanban ini. Karena kita memang disuguhkan keaslian alam. Belum ada campur tangan manusia yang sering semau-maunya merubah tatanan kehidupan alam yang sudah asri.

Apa yang menarik dalam perjalanan ini. Dari Kota Bangun kita naik Ces Kendaraan air tersebut. sesampai di Kahala atau Kecamatan Kenohan, kita sudah ditunggu ratusan tukang ojek dipelabuhan hilir Kenohan.

Meraka gantian mengangkut para penumpang. Padahal bisa saja kita minta antar taksi ces tadi ke hulu sungai lagi, tetapi sang jurgan ces menyinggahkan kita dipelabuhan yang sudah disediakan.

Ekonomi Pancasila, ternyata memang sudah ada sejak dahulu di tengah masyarakat kita. Bahwa Ekonomi Pancasila itu memang harus ada rasa keadilan. Adil dalam menguasai kantong-kantong ekonomi. Tidak dikuasi satu orang atau satu kelompok saja. Tetapi berbagi. Ekonomi kekeluargaan. Tidak menopoli. Saling memberi rezeki kepada yang lain.
Kita sering teriak-teriak Ekonomi Kerakyatan, tetap sering kita menopoli sistem pembagian rezeki ini. Misalnya jika subuh pagi saat kita pulang dari surau kita lihat bis-bis mengangkut karyawan ditengah kota bertebaran. Padahal itu bisa dibagi masyarakat. Bis cukup menunggu disebuah terminal, nanti para karyawan bisa ikut taksi kota atau ojek malam. Tapi karena kita berpikir ekonomi, efektif dan efisien, maka semua dikelola satu perusahaan saja. Masyarakat kadang-kadang hanya melihat dan melihat tidak bisa berbuat banyak. Karena memang tidak ada regulasi untuk hal tersebut.






Walaupun demikian, masyarakat masih bisa merasakan Ekonomi Kerakyatan. Seperti adanya pembagian Trayek Taksi Kota. Trayek A tidak boleh mengambil Trayek B. Ada Ojek Payung dan seterusnya. Atau adanya pasar-pasar dadakan (pasar malam) ini juga merupakan bagian dari sistem Ekonomi Pancasila, yaitu tidak menopoli di Pasar besar atau mall-mall yang menyajikan jual sayur atau daging. Karena harus kita sadari, tidak semua masyarakat bisa masuk ke Pasar atau ke Mall

Cukup Lama Aku Menunggu

Alhamdulillah..... pagi ini terasa skali dinginnya. Memang akhir-akhir ini hujan sering mengguyur kota Raja Tenggarong. Namun bukan itu masalahnya, karena hujan turun merupakan bagian rahmat Allah SWT yang harus kita syukur. Jika ada banjir atau tanah lonsor akibat hujan, tentunya bukan kesalahan hujan, tetap Allah SWT juga ingin mengoreksi kesalahan manusia. Janganlah kita merusak alam ini dengan semau-maunya.

Rasa syukur ini tentunya datangnya dari dalam diri kita sendiri, bahwa kebahagian itu tidaklah datang begitu saja. Iya datang tentunya memang Allah menurunkan kebahagian itu kepada siapa yang Ia kehendaki.

Oleh karena itu setiap menerima kebahagian haruslah kita ingat bahwa Allah masih sayang dengan kita. Masih cinta dengan kita. Seandainya Allah tidak peduli lagi, tidak mengheraukan lagi, do'a-do'a kita tidak didengar lagi. Maka tunggulah ujiannya akan datang silih berganti sampai kita menjelang masuk keliang kubur.

Kebahagian yang aku rasakan merupakan kebahagian yang tak terpatri oleh siapapun juga, kecuali Allah SWT yang mengetahuinya. Subhannallah maha suci Allah yang memiliki keindahan dan kebahagiaan. Semua milikNya. Semoga ini terus ada, sampai Allah SWT sendiri yang memutuskannya. (2/12/2014)

Jangan Dia Dilepas

Jangan kebahagian itu dimiliki sesaat
Tapi milikilah kebahagian itu sampai engkau menghadap al-Kholiq.

Ada dua orang pemuda dan pemuda beda waktu dan tempat bertanya pada seorang Ustadz

Pria : "Ustadz.....bagaimana mengetahui dia (wanita) itu betul-betul ikhlas dengan kita?"
Ustadz : "Coba tuntun dia, arahkan dia.....,jika dia patuh akan arahanmu, jangan lepaskan dia".

Wanita : "Bagaimana mengetahui dia (pria) itu betul-betul mencintai kita?

Ustadz : "Buat dia marah, kalau dia sabar....., jangan lepaskan dia".

Kaltim Post

POPULAR POST
STATISTIC






Support : Aplikita | Penitishop
Copyright © 2014. Syahedu.com - All Rights Reserved
Template Created by Aplikita
Published by Aplikita